DESAIN PEMBELAJARAN MEMBACA
“MENGANALISIS TEKS CERITA SEJARAH
MENGGUNAKAN MODEL MEMBACA ATAS BAWAH PADA KELAS XII SEMESTER 1”
1.
KONSEP
1.1
Teks Cerita Sejarah
Teks Sejarah merupakan teks yang
didalamnya menjelaskan/menceritakan tentang fakta/kejadian masa lalu yang
menjadi asal muasal sesuatu yang memiliki nilai sejarah.
1.1.1
Ciri Teks Cerita Sejarah
-
Disajikan secara kronologis atau urutan peristiwa atau
urutan kejadian.
-
Bentuk teks rekon atau teks cerita ulang
-
Struktur teks orientasi, urutan peristiwa,
reorientasi.
-
Sering menggunakan konjungsi temporal.
-
Berisi berupa fakta.
1.1.2
Struktur Teks Cerita Sejarah
-
Orientasi
Merupakan
bagian pengenalan atau pembuka dari teks cerita sejarah.
-
Urutan Peristiwa
Merupakan rekaman peristiwa sejarah
yang terjadi, yang biasanya disampaikan dalam urutan kronologis.
-
Reorientasi
Berisi komentar pribadi penulis
tentang peristiwa atau kejadian sejarah yang diceritakan. Bagian ini merupakan
tahapan yang bersifat pilihan, artinya boleh saja bagian ini tidak disajikan
oleh penulis teks cerita sejarah.
1.1.3
Kaidah
Kebahasaan Teks Sejarah
-
Pronomina (kata ganti)
Kata yang
digunakan untuk menggantikan benda dan menamai seseorang atau sesuatu secara
tidak langsung.
-
Frasa adverbial
Kata yang
menunjukan kejadian atau peristiwa, waktu, dan tempat.
-
Verba material
Kata yang
berfungsi untuk menunjukan aktivitas atau perbuatan nyata yang dilakukan oleh
partisipan. Kata kerja material menunjukan perbuatan fisik atau peristiwa,
misalnya membaca, menulis, dan menyapu.
-
Konjungsi Temporal (kata sambung waktu)
Berguna
untuk menata urutan-urutan peristiwa yang diceritakan, teks cerita sejarah
banya memanfaatkan konjungsi (kata penghubung) temporal.
1.2
MODEL PEMBELAJARAN
1.2.1
Model Membaca Atas Bawah
Model Membaca Atas Bawah (MMAB) merupakan model membaca yang
berdasarkan cara pandang bahwa yang mempunyai pesan utama (primer) dalam
membaca adalah kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa dan bacaan mempunyai
peran sekunder. Dengan model ini, pembaca hanya melihat simbol-simbol grafis
seperlunya saja dan selebihnya (sebagian besar) pembaca menggunakan kompetensi
kognitif dan bahasa yang telah dimilikinya. Karena kompetensi kognitif dan
bahasa berada di atas (otak) dan simbol-simbol grafis berada di bawah (bacaan),
model membaca seperti ini disebut model membaca atas bawah.
Pada model membaca atas bawah terlebih dahulu pembaca menebak atu
mengira-ngira makna atau maksud apa yang terdapat dalam bacaan. Misalnya bila
si pembaca mengetahui tantang ilmu kebahasaan kemudian dia membaca buku tentang kebahasaan maka si pembaca tersebut akan berpikir
terlebih dahulu kira-kira apa yang akan dibahas dalam buku tersebut, sebelum
membacanya. Bila proses membacanya berlangsung si pembaca tidak akan mengalami
banyak kesulitan tentang makna yang dimaksud oleh penulis buku karena si
pembaca sudah memiliki pengetahuan tentang ilmu kebahasaan.
Proses model membaca atas bawah:
-
Mata melihat pada teks,
-
Berpikir dan menduga tentang
makna,
-
Melihat kalimat sebagai contoh
keseluruhan untuk mencari makna,
-
Untuk mencari makna lebih jauh, melihat pada kata-kata,
-
Jika masih belum pasti, melihat
lagi pada huruf-huruf,
-
Kemudian kembali pda pemikiran
makna.
2.
DESAIN PEMBEELAJARAN
2.1 Sintakmatik
Model
2.1.1 Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With
the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu
pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu
aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai
dengan sebuah pemecahan masalah yang mendalam. Pengajar berusaha agar topik
yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
2.1.2 Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for
the Project)
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara
pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan
merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main,
pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial,
dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta
mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian
proyek.
2.1.3 Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan
peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan
proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk
menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa
peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik
ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5)
meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu
cara.
2.1.4 Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek
(Monitor the Students and the Progress of the Project)
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor
terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring
dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap roses. Dengan
kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar
mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan
aktivitas yang penting.
2.1.5 Menguji
Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian
dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan
dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik
tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar
dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
2.1.6 Mengevaluasi
Pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir
proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas
dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara
individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk
mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar
dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama
proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new
inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama
pembelajaran.
2.2
Sistem
Sosial
- Siswa memecahkan problem-problem
yang kompleks.
- Melakukan kerja kelompok dalam
proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan
komunikasi. Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi
online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek.
- Siswa meningkatkan keterampilan
mengelola sumber. Bagian dari menjadi siswa yang independen adalah
bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks.
2.3
Prinsip
Reaksi
- Siswa aktif dalam kegiatan belajar
mengajar
- Siswa bekerja dan secara produktif
menemukan berbagai pengetahuan melalui pembelajaran proyek.
- Siswa mengembangkan dan
mempraktikkan keterampilan komunikasi melalui kerja kelompok.
- Pengajar hanya mengamati dan
memantau jalannya kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar
kelas.
2.4 Sistem Pendukung
Guru membuat power point sebagai media pembelajaran.Pengajar merancang desain atau
membuat kerangka proyek yang bermanfaat dalam menyediakan informasi yang
dibutuhkan oleh pelajar dalam mengembangkan pemikiran terhadap proyek tersebut
sesuai dengan kerangka yang ada.Guru memberikan rubrik penilaian
portofolio kepada siswa untuk memonitor kegiatan siswa.
2.5 Dampak Instruksional dan Pengiring
2.5.1 Dampak Instruksional
a. Memahami materi
b.
Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir.
c. Menuliskan pokok-pokok materi
d. Menciptakan karya sesuai dengan
pengalaman siswa
e.
Mengaplikasikan hasil belajar lewat tindakan.
2.5.2
Dampak Pengiring
a. Siswa akan berpikir lebih kritis
dalam membuat keputusan
b. Siswa memiliki rasa bertanggung jawab
c. Kesadaran tentang rasa kekeluargaan
d. Mendapatkan sebuah pelajaran yang
dapat diambil hikmahnya
3.
IMPLEMENTASI DESAIN PEMELAJARAN
Sekolah : SMP Negeri
Kelas/Semester : VII/1
Mata
Pelajaran : Bahasa Indonesia
Materi
Pokok : Teks Cerita Sejarah
Alokasi waktu : 1 x 45 menit (1 x pertemuan)
A.
Kompetensi Dasar dan
Indikator
|
Kompetensi
Dasar
|
Indikator
|
|
3.3 Menganalisis
teks cerita sejarah, .... baik melalui lisan maupun tulisan
|
1.
Menentukan ide pokok paragraf teks cerita sejarah.
2.
Mengidentifikasi struktur dan kaidah kebahasaan
teks cerita sejarah.
|
B.
Tujuan
Pembelajaran
1. Siswa
mampu menyimpulkan pengertian teks cerita sejarah,
2. Siswa
mampu menentukan ide pokok paragraf teks cerita sejarah
3. Siswa
mampu menjelaskan kaidah kebahasaan teks cerita sejarah
4. Siswa
mampu menganalisis kembali teks narasi yang telah dibuatnya.
C.
Materi
Pokok
1.
Pengertian teks narasi
2.
Struktur teks narasi
3.
Kaidah kebahasaan teks narasi
4.
Contoh teks narasi
D.
Pendekatan,
Model
1. Pendekatan : Komunikatif
2. Model
: Model Membaca Atas Bawah (MMAB)
E.
Media
- Teks
cerita sejarah
- Buku
cerita sejarah
- Film
tokoh inspiratif
F.
Sumber
Belajar
- Buku
teks
- Buku
siswa
- Buku
refrensi
G.
Langkah-
Langkah Pembelajaran
|
Pertemuan
|
Langkah-Langkah
|
Metode/
Teknik
|
Alokasi
Waktu
|
|
Ke-1
|
A. Kegiatan Awal (Orientasi, motivasi,
dan acuan)
1.
Guru memberikan orientasi dan
motivasi tentang pembelajaran yang akan dilakukan
2.
Guru menjelaskan acuan yang akan
dipakai dalam pembelajaran yang akan dilakukan
B. Kegiatan Inti
1.
Siswa mendengarkan penjelasan
tentang teks cerita sejarah
2.
Siswa mengelompokkan diri dan
berdiskusi dan menganalisis tentang teks ccerita sejarah
3.
Siswa memaparkan hasil diskusi
yang telah dilakukan
4.
Siswa menanyakan kesulitan yang
dihadapi dalam cerita sejarah
C. Kegiatan Penutup
1. Siswa
dan guru merefleksi kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan
|
Ceramah
Ceramah
Diskusi
Presentasi
Tanya
Jawab
Ceramah
|
10
Menit
5
Menit
15
Menit
10
Menit
5
Menit
|
H.
Evaluasi
- Tes
Tulis (uraian)
- Tes
Tulis (produksi)
- Rubrik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar